Pelajaran Berharga dari Sariwangi

Beberapa hari terakhir ini kita mungkin mendengar sebuah perusahaan teh terkenal dinyatakan bangkrut. Perusahaan tersebut bernama PT Sariwangi Agricultural Estate Agency. Dia dinyatakan pailit karena tak mampu membayar hutang yang sudah menggunung.


Kemudian anda bertanya, tapi produk sariwangi kok masih ada di pasaran?

Lagi belanja bulanan, tiba-tiba anak-anak muda yang lagi ada di bagian Teh di SUpermarket berguman "Loh ini teh sariwangi masih dijual kok, katanya bangkrut?" Ucap anak muda tersebut.

Inilah pentingnya kita membaca sesuatu itu secara lengkap. Bukan hanya dari covernya saja. Jadi belum banyak yang tau kenapa PT Sariwangi pailit tetapi kita masih bisa menikmati Teh Sariwangi di pasaran.

PT. Sariwangi terlilit hutang 1 Trilyun Rupiah & dinyatakan pailit pada 16 Oktober lalu. Tetapi pertanyaannya kenapa produknya sampai sekarang masih bisa kita nikmati?

Pada tahun 1962, Sariwangi didirikan oleh Bapak Johan Alexander Supit. Bapak yang satu ini memang seorang inovator sejati, terutama dalam pengembangan inovasi teh di Indonesia. Alhasil, inovasinya ini menjadi market leader di industri teh celup Indonesia.

Yang namanya market leader, pasti popularitas teh Sariwangi ini begitu kental di benak masyarakat Indonesia.

Nah karena BRAND sariwangi begitu besarnya, pada tahun 1989, BRAND SARIWANGI dibeli oleh Unilever. INGAT, yang dibeli adalah Brand-nya bukan PT-nya. Dengan kata lain, PT Sariwangi tetap memproduksi & mensuplai teh ke Unilever, tetapi Brand Sariwangi-nya sendiri sudah menjadi milik Unilever.

19 tahun kemudian, pada tahun 2018 Unilever memutuskan kontrak dengan PT Sariwangi AEA untuk mensuplai teh sariwangi ke Unilever (Sedih  yaw gaes di putusin itu )

Terus darimana Unilever mendapatkan penggantinya? silakan dicari sendiri di mbah gugle ya gaes. Soalnya belum saya cari datanya.

Intinya, teh celup sariwangi masih bisa dinikmati sampai saat ini karena pemilik BRAND-nya masih kokoh berdiri & tetap berproduksi, yaitu Unilever.

Ingat gaes, bangkrut perusahaannya  bukan berarti kita sudah tidak bisa menikmati produknya.

Pelajaran berharganya:

BRAND atau REPUTASI itu nilainya sangat tinggi gaes. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset terlihat yang dimiliki. Intangible Asset itu jauh lebih berharga gaes dibandingkan dengan Tangible Asset.




Share:

No comments:

Post a Comment

Kategori